.

Pencarian

Loading...

Tazkirah: Wudhu’ - Bahagian 3


Berhati-hatilah… pelbagai macam penyakit moden dewasa kini berasal dari perut seperti darah tinggi, diabetes, sakit hempedu, jantung, dan obesiti (kegemukan) dengan pelbagai macam komplikasinya. Pengaturan pola pemakanan yang baik dan hidup yang teratur akan mengurangi risiko penyakit tersebut.


Jadi, filosofi wudhu’ adalah filosofi mensucikan hati dan pengendalian diri secara kejiwaan. Kesucian hati dan pengendalian diri itu akan semakin sempurna, ketika seseorang dapat menata hatinya untuk berserah diri penuh keikhlasan, kerana Allah semata.


Orang yang kurang ikhlas dalam wudhu’ biasanya malah akan memperoleh 'godaan' yang bersifat membatalkan wudhu’nya. Di antaranya adalah kecenderungan untuk kentut yang berlebihan. Jika, anda menemui hal semacam itu, maka relakan sajalah. Artinya, kalau memang Allah menghendaki kita tidak dapat menahan diri untuk tidak kentut, ya buang saja gas itu. Dan kita relakan untuk berwudhu’ kembali.


Ketakutan untuk 'kentut' seringkali malah membuat kita merasa was-was, 'wudhu’ kita sudah batal atau belum'. Sekali lagi ini adalah latihan untuk mengendalikan diri dan keikhlasan kita kepada Allah. Bagi orang yang ikhlas, semuanya akan terasa menjadi mudah saja. Dan Keikhlasan itulah yang menjadi salah satu kunci bagi kekhusyukan solat kita. Termasuk bagi kemustajaban do'a kita di dalam solat.


Dengan demikian, sejak dari niat melakukan wudhu’, kita harus sudah mengkondisilkan hati bahawa wudhu’ kita ini adalah untuk mensucikan hati dalam menyongsong ibadah solat. Sehingga seluruh tatacara wudhu’ itu mesti kita barengi dengan do'a untuk mensucikan anggota-anggota badan yang kita wudhu’kan.


Kalau kita mengacu pada ayat tersebut di atas, maka berwudhu’ memiliki 4 gerakan utama, yaitu mengusap wajah, mengusap tangan, mengusap kepala, dan mengusap kaki. Keempat anggota badan itu adalah anggota vital yang sering kita gunakan dalam interaksi kehidupan kita sehari-hari.


Wajah adalah representasi dari kepribadian dan diri seseorang. Dalam solat, wajah kita inilah yang dihadapkan kepada Allah sebagaimana kita ucapkan dalam do'a iftitah (inni wajahtu wajhiya lilladzii fatharassamaawati wal ardhi sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada Dzat Yang Menciptakan Langit dan Bumi).


QS. Ar Ruum (30): 30 "Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tdak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui."


Maka dengan mengusap wajah, kita meniatkan untuk mensucikan seluruh diri kita, lahir dan batin. Kita ingin menghadapkan 'wajah' dan diri kepada Allah dalam keadaan terbaik yang kita miliki.


Di wajah itu pula terdapat mata, mulut, hidung, dan telinga yang juga mesti kita sucikan dari berbagai 'kekotoran' perbuatan kita selama ini. Mudah-mudahan dengan mengusapkan air wudhu’ ke wajah kita, berbagai indera kita itu ikut tersucikan. Tidak lagi makan, minum, berkata, melihat, mendengar dan mencium sembarangan yang dapat menyebabkan berbagai persoalan dalam kehidupan kita, pribadi mahupun masyarakat.


Sebaliknya, dengan mensucikannya kita berharap memunculkan manfaat yang positip dari indera-indera yang kita gunakan untuk kebaikan. Dan dari wajah yang sering terkena air wudhu’ itu, mudah-mudahan memancar cahaya jernih yang menggambarkan aura positip dari orang-orang yang saleh.


Selain wajah, Allah mengajarkan agar kita juga mensucikan kedua tangan. Tangan adalah representasi dari perbuatan dan karya-karya kita. Maka mensucikan kedua belah tangan adalah bermakna menjauhkan seluruh perbuatan dan berbagai hasil karya kita dari hal-hal yang kotor.


Betapa banyaknya orang berbuat kerusakan di muka Bumi dengan tangan-tangan mereka. Daratan dan lautan mengalami kerusakan yang sangat parah yang justru menyebabkan turunnya kualitas kehidupan manusia itu sendiri. Banjir dan kerusakan lingkungan serta rusaknya atmosfer memunculkan problem yang serius buat kehidupan generasi-generasi mendatang. Maka, kita harus mengendalikan tangan-tangan kita, agar tidak semakin memperparah keadaan. Nah komitmen itulah yang kita tegaskan lewat aktiviti wudhu’'.


QS. Ar Ruum (30): 41 "Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan kerana perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)."


Yang ketiga, adalah mengusap kepala. Inilah anggota badan yang paling penting dalam kehidupan kita. Kepala adalah anggota badan yang mengendalikan seluruh kemauan untuk melakukan sesuatu dan kemudian membuat keputusan. Di otak itulah kehendak kita berada. Kerana itu, Allah memerintahkan kepada kita untuk mensucikannya.


Mensucikan kepala adalah mensucikan berbagai kehendak yang 'tersembunyi' di dalam otak. Betapa menyenangkannya dunia ini, kalau isi kepala setiap kita adalah hal-hal yang positip. Hal-hal yang memberikan manfaat untuk kehidupan kita, kini mahupun nanti.


Maka, disinilah Allah mengajarkan kepada kita untuk membangun komitmen : mari kita sucikan kehendak dan segala keinginan kita menjadi kehendak dan keinginan yang suci yang memberikan manfaat besar buat siapa saja. Diri kita, keluarga kita, sahabat-sahabat kita, masyarakat bangsa dan negara, serta umat manusia seluruhnya.


Dan yang terakhir, kita mengusap kaki dalam berwudhu’. Kita semua berharap agar seluruh langkah kehidupan kita mencerminkan 'wajah-wajah' yang suci, 'tangan-tangan' yang suci, dan 'isi kepala' yang suci.

Inilah makna wudhu’ kita. Wudhu’ adalah sebuah komitmen suci untuk mengendalikan diri agar menjadi orang yang bertaubat dari segala kesalahan kemanusiaan kita, bersih dari keinginan yang keji dan merugikan orang lain, serta komitmen untuk selalu berbuat dan menghasilkan karya yang bermanfaat untuk generasi sekarang mahupun yang akan datang. Kerana itu, seusai wudhu’ kita diajari untuk membaca do'a:


Asyhadu anlaa ilaaha illailaahu wahdahu laa syariikalahu wa asyhadu anna muhammadan 'abduhu warasuuluhu laa Nabiyya ba'dahu Allahummaj’alni minattawwabin waj’alni minal mutathaahiriin waj'alni minal 'ibaadihash shaalihiin


"Aku bersaksi bahawa tidak ada Tuhan selain Allah dan tidak ada serikat bagiNya, dan aku bersaksi bahawa Muhammad adalah hamba dan utusanNya, tidak ada Nabi sesudahnya. Ya Allah jadikanlah aku dari golongan orang-orang yang bertaubat, dan jadikanlah aku dari golongan orang-orang yang mensucikan diri, dan jadikanlah aku dari golongan hamba-hambaMu yang saleh."


Do'a sesudah wudhu’ di atas memberikan penegasan kepada kita bahawa berwudhu’ itu untuk memperoleh tiga hal yang terkandung dalam do'a di atas. Yaitu, bertaubat atas segala hal yang selama ini 'kurang bagus'. Kerana itu lantas mohon menjadi orang yang 'disucikan' dari berbagai 'kekurangan' tersebut. Dan akhirnya, memohon untuk dijadikan sebagai orang-orang yang banyak 'berbuat kebaikan' atau orang-orang yang beribadah dalam keihklasan, ataupun orang-orang yang saleh.


Jadi, wudhu’ adalah sebuah proses untuk membangun komitmen menjadi lebih berkualitas. Menyiapkan diri untuk menapaki langkah-langkah berikutnya. Siap menghadapi proses yang lebih berat lagi ke depan.


Dengan demikian, diharapkan solatnya akan lebih khusyuk. Lebih bermakna. Bermakna dalam dzikirnya. dan bermakna dalam do'anya. Ya, bukankah solat kita memiliki makna untuk berdzikir dan berdoa?


Artikel terdahulu:

1) Wudhu’ - Bahagian 1

2) Wudhu’ - Bahagian 2

No comments:

Post a Comment

Related Posts with Thumbnails