Showing posts with label Wudhu'. Show all posts
Showing posts with label Wudhu'. Show all posts
Wudhu dengan Botol Spray
Wudhu menggunakan botol spray sangat praktikal ketika musafir, mengerjakan haji atau umrah dan waktu bekalan air terhad. Botol spray size 100ml sangat comel, boleh disimpan dalam beg dan mudah dibawa kemana-mana. Tiada alasan untuk tidak solat kerana tidak dapat berwudhu. :-)
Di bawah ini serba sedikit cara menggunakan spray untuk mengambil wudhu ditunjukkan oleh Shaikh Hasanayn Kassamali
Tatacara mengambil wudhu dengan botol spray.
1) Niat ambil wudhu.
2) Spray ke keseluruhan muka sehingga air menitis dari muka, spray sedikit pada tapak tangan dan sapu seluruh muka dengan menggunakan tapak tangan.
3) Spray keseluruhan tangan kanan sehingga ke siku. Sapu keseluruhannya.
4) Spray keseluruhan tangan kiri sehingga ke siku. Sapu keseluruhannya.
5) Spray air ke ubun kepala dan ratakan.
6) Spray keseluruhan kaki kanan sehingga ke pergelangan kaki. Sapu keseluruhannya.
7) Spray keseluruhan kaki kiri sehingga ke pergelangan kaki. Sapu keseluruhannya.
8) Tertib
Nota:
Pastikan botol spray anda bersih dan diisi dengan air mutlak.
Tazkirah: Wudhu’ - Bahagian 3

Berhati-hatilah… pelbagai macam penyakit moden dewasa kini berasal dari perut seperti darah tinggi, diabetes, sakit hempedu, jantung, dan obesiti (kegemukan) dengan pelbagai macam komplikasinya. Pengaturan pola pemakanan yang baik dan hidup yang teratur akan mengurangi risiko penyakit tersebut.
Jadi, filosofi wudhu’ adalah filosofi mensucikan hati dan pengendalian diri secara kejiwaan. Kesucian hati dan pengendalian diri itu akan semakin sempurna, ketika seseorang dapat menata hatinya untuk berserah diri penuh keikhlasan, kerana Allah semata.
Orang yang kurang ikhlas dalam wudhu’ biasanya malah akan memperoleh 'godaan' yang bersifat membatalkan wudhu’nya. Di antaranya adalah kecenderungan untuk kentut yang berlebihan. Jika, anda menemui hal semacam itu, maka relakan sajalah. Artinya, kalau memang Allah menghendaki kita tidak dapat menahan diri untuk tidak kentut, ya buang saja gas itu. Dan kita relakan untuk berwudhu’ kembali.
Ketakutan untuk 'kentut' seringkali malah membuat kita merasa was-was, 'wudhu’ kita sudah batal atau belum'. Sekali lagi ini adalah latihan untuk mengendalikan diri dan keikhlasan kita kepada Allah. Bagi orang yang ikhlas, semuanya akan terasa menjadi mudah saja. Dan Keikhlasan itulah yang menjadi salah satu kunci bagi kekhusyukan solat kita. Termasuk bagi kemustajaban do'a kita di dalam solat.
Dengan demikian, sejak dari niat melakukan wudhu’, kita harus sudah mengkondisilkan hati bahawa wudhu’ kita ini adalah untuk mensucikan hati dalam menyongsong ibadah solat. Sehingga seluruh tatacara wudhu’ itu mesti kita barengi dengan do'a untuk mensucikan anggota-anggota badan yang kita wudhu’kan.
Kalau kita mengacu pada ayat tersebut di atas, maka berwudhu’ memiliki 4 gerakan utama, yaitu mengusap wajah, mengusap tangan, mengusap kepala, dan mengusap kaki. Keempat anggota badan itu adalah anggota vital yang sering kita gunakan dalam interaksi kehidupan kita sehari-hari.
Wajah adalah representasi dari kepribadian dan diri seseorang. Dalam solat, wajah kita inilah yang dihadapkan kepada Allah sebagaimana kita ucapkan dalam do'a iftitah (inni wajahtu wajhiya lilladzii fatharassamaawati wal ardhi sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada Dzat Yang Menciptakan Langit dan Bumi).
QS. Ar Ruum (30): 30 "Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tdak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui."
Maka dengan mengusap wajah, kita meniatkan untuk mensucikan seluruh diri kita, lahir dan batin. Kita ingin menghadapkan 'wajah' dan diri kepada Allah dalam keadaan terbaik yang kita miliki.
Di wajah itu pula terdapat mata, mulut, hidung, dan telinga yang juga mesti kita sucikan dari berbagai 'kekotoran' perbuatan kita selama ini. Mudah-mudahan dengan mengusapkan air wudhu’ ke wajah kita, berbagai indera kita itu ikut tersucikan. Tidak lagi makan, minum, berkata, melihat, mendengar dan mencium sembarangan yang dapat menyebabkan berbagai persoalan dalam kehidupan kita, pribadi mahupun masyarakat.
Sebaliknya, dengan mensucikannya kita berharap memunculkan manfaat yang positip dari indera-indera yang kita gunakan untuk kebaikan. Dan dari wajah yang sering terkena air wudhu’ itu, mudah-mudahan memancar cahaya jernih yang menggambarkan aura positip dari orang-orang yang saleh.
Selain wajah, Allah mengajarkan agar kita juga mensucikan kedua tangan. Tangan adalah representasi dari perbuatan dan karya-karya kita. Maka mensucikan kedua belah tangan adalah bermakna menjauhkan seluruh perbuatan dan berbagai hasil karya kita dari hal-hal yang kotor.
Betapa banyaknya orang berbuat kerusakan di muka Bumi dengan tangan-tangan mereka. Daratan dan lautan mengalami kerusakan yang sangat parah yang justru menyebabkan turunnya kualitas kehidupan manusia itu sendiri. Banjir dan kerusakan lingkungan serta rusaknya atmosfer memunculkan problem yang serius buat kehidupan generasi-generasi mendatang. Maka, kita harus mengendalikan tangan-tangan kita, agar tidak semakin memperparah keadaan. Nah komitmen itulah yang kita tegaskan lewat aktiviti wudhu’'.
QS. Ar Ruum (30): 41 "Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan kerana perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)."
Yang ketiga, adalah mengusap kepala. Inilah anggota badan yang paling penting dalam kehidupan kita. Kepala adalah anggota badan yang mengendalikan seluruh kemauan untuk melakukan sesuatu dan kemudian membuat keputusan. Di otak itulah kehendak kita berada. Kerana itu, Allah memerintahkan kepada kita untuk mensucikannya.
Mensucikan kepala adalah mensucikan berbagai kehendak yang 'tersembunyi' di dalam otak. Betapa menyenangkannya dunia ini, kalau isi kepala setiap kita adalah hal-hal yang positip. Hal-hal yang memberikan manfaat untuk kehidupan kita, kini mahupun nanti.
Maka, disinilah Allah mengajarkan kepada kita untuk membangun komitmen : mari kita sucikan kehendak dan segala keinginan kita menjadi kehendak dan keinginan yang suci yang memberikan manfaat besar buat siapa saja. Diri kita, keluarga kita, sahabat-sahabat kita, masyarakat bangsa dan negara, serta umat manusia seluruhnya.
Dan yang terakhir, kita mengusap kaki dalam berwudhu’. Kita semua berharap agar seluruh langkah kehidupan kita mencerminkan 'wajah-wajah' yang suci, 'tangan-tangan' yang suci, dan 'isi kepala' yang suci.
Inilah makna wudhu’ kita. Wudhu’ adalah sebuah komitmen suci untuk mengendalikan diri agar menjadi orang yang bertaubat dari segala kesalahan kemanusiaan kita, bersih dari keinginan yang keji dan merugikan orang lain, serta komitmen untuk selalu berbuat dan menghasilkan karya yang bermanfaat untuk generasi sekarang mahupun yang akan datang. Kerana itu, seusai wudhu’ kita diajari untuk membaca do'a:
Asyhadu anlaa ilaaha illailaahu wahdahu laa syariikalahu wa asyhadu anna muhammadan 'abduhu warasuuluhu laa Nabiyya ba'dahu Allahummaj’alni minattawwabin waj’alni minal mutathaahiriin waj'alni minal 'ibaadihash shaalihiin
"Aku bersaksi bahawa tidak ada Tuhan selain Allah dan tidak ada serikat bagiNya, dan aku bersaksi bahawa Muhammad adalah hamba dan utusanNya, tidak ada Nabi sesudahnya. Ya Allah jadikanlah aku dari golongan orang-orang yang bertaubat, dan jadikanlah aku dari golongan orang-orang yang mensucikan diri, dan jadikanlah aku dari golongan hamba-hambaMu yang saleh."
Do'a sesudah wudhu’ di atas memberikan penegasan kepada kita bahawa berwudhu’ itu untuk memperoleh tiga hal yang terkandung dalam do'a di atas. Yaitu, bertaubat atas segala hal yang selama ini 'kurang bagus'. Kerana itu lantas mohon menjadi orang yang 'disucikan' dari berbagai 'kekurangan' tersebut. Dan akhirnya, memohon untuk dijadikan sebagai orang-orang yang banyak 'berbuat kebaikan' atau orang-orang yang beribadah dalam keihklasan, ataupun orang-orang yang saleh.
Jadi, wudhu’ adalah sebuah proses untuk membangun komitmen menjadi lebih berkualitas. Menyiapkan diri untuk menapaki langkah-langkah berikutnya. Siap menghadapi proses yang lebih berat lagi ke depan.
Dengan demikian, diharapkan solatnya akan lebih khusyuk. Lebih bermakna. Bermakna dalam dzikirnya. dan bermakna dalam do'anya. Ya, bukankah solat kita memiliki makna untuk berdzikir dan berdoa?
Artikel terdahulu:
1) Wudhu’ - Bahagian 1
2) Wudhu’ - Bahagian 2
Tazkirah: Wudhu’ - Bahagian 2

Berwudhu’ memang membasuh anggota-anggota badan, mulai dari muka sampai ke kaki. Akan tetapi perkara yang membatalkan wudhu’ bukanlah kotoran yang mengotori badan kita, melainkan 'fikiran kotor' yang menghinggapi hati kita.
Cuba cermati filosofi wudhu’ ini. Jika kita sudah berwudhu’, maka aktiviti makan dan minum tidaklah membatalkannya. Tidak perlu mengulangi berwudhu’. Jika anda. makan minum ketika masih mempunyai wudhu’, maka untuk melakukan solat, anda cukup berkumur saja.
Kalau begitu apakah yang membatalkan wudhu’? Wudhu’ dibatalkan oleh 'kotoran-kotoran' atau gangguan yang bersifat kejiwaan. Misalnya, menyentuh kemaluan dan menyentuh perempuan yang mengarah kepada syahwat. Atau, ketiduran dan pengsan yang menyebabkan hilangnya akal. Atau kentut, kencing dan buang air besar, yang memang ditetapkan oleh Allah sebagai pembatal wudhu’ dalam erti melatih kemampuan kita dalam mengendalikan diri.
Khusus tentang kentut, buang air kecil dan buang air besar, ada yang menganggap bahawa pembatalan wudhu’ itu bersifat jasmani. Bagi saya tidak demikian. Bukan 'gas' kentut, air kencing dan najis itu sebenarnya yang membatalkan. Melainkan ketidak mampuan kita mengendalikan ketiga hal itulah yang oleh Allah dijadikan pembatal wudhu’.
Nah, dengan menetapkan ketiga hal tersebut sebagai pembatal wudhu’, sebenarnya Allah menginginkan kita hidup bersih dan teratur. Selain itu, juga mampu mengendalikan diri untuk tidak berlaku sembarangan. Hidup bersih dan teratur akan membuat hidup kita sihat.
Dengan demikian, seorang muslim harus selalu menjaga kesihatan 'perutnya', berkait dengan solat 5 waktu yang dijalaninya. Apalagi kesihatan perut ini sangatlah vital. Lebih dari 80 persen penyakit modern dewasa ini berasal dari tidak terjaganya 'perut'. Makan sembarang makan, dengan pola yang jelek bakal menyebabkan problem kesihatan.
Bersambung… Wudhu’ - Bahagian 3
Artikel terdahulu:
1) Wudhu’ - Bahagian 1
Tazkirah: Wudhu’ - Bahagian 1

Apakah sebenarnya makna wudhu’?
Apakah ia berfungsi membersihkan ataukah mensucikan?
Ternyata, berwudhu’ lebih memiliki makna untuk mensucikan diri. Bukan sekadar membersihkan.
Membersihkan dalam istilah agama disebut sebagai istinja'. Misalnya, setelah kita buang air kecil atau besar. Maka kita diwajibkan membersihkan diri dengan air atau batu atau cara-cara yang telah diajarkan.
Namun berwudhu’ lebih kepada mensucikan. Dan ini lebih bermakna batiniah daripada lahiriah. Memang berwudhu’ mesti bersih dulu menerusi istinja', tetapi berwudhu’ sendiri tidak harus bersifat membersihkan. Memang, berwudhu’ juga harus mengusap anggota badan dengan air atau debu. Tapi cuba perhatikan, anggota badan yang diusap tidak terkait secara langsung dengan hadas yang terjadi. Apalagi dengan najisnya, sama sekali tidak. Kerana itu, jika kita tidak menemukan air, maka kita oleh bertayamum dengan menggunakan 'debu yang bersih'.
Tentu kita faham, bahawa debu (sebersih apa pun) tetaplah debu. Ia tidak akan dapat membersihkan badan kita yang kotor (malah semakin 'berdebu'), sebagaimana air membersihkan badan kita. Jadi makna bertayamum (sebagai pengganti wudhu’) bukanlah membersihkan melainkan mensucikan. Demikian pula berwudhu’, adalah mensucikan. Bukan badan tetapi batin.
Jadi berwudhu’ bukanlah membersihkan najis, melainkan menghilangkan hadas kecil, kerana buang air besar dan buang air kecil. Sedangkan hadas besar, yang disebabkan oleh 'hubungan suami isteri' dihilangkan dengan cara mandi. Cuba perhatikan ini : 'hadas kecil' dihilangkan dengan cara membasuh sebagian anggota tubuh kita dengan cara berwudhu’, sedangkan hadas besar dihilangkan dengan cara membasuh seluruh badan kita dengan air, ataupun mandi hadas. Jika tidak menemukan, maka lakukan dengan debu yang bersih. Baik wudhu’ mahupun mandi hadas dapat digantikan dengan tayamum. Ini, sekali lagi menunjukkan kepada kita, bahawa yang disucikan bukanlah badan. Tapi, batin.
Namun demikian, dalam aktiviti berwudhu’, sebenarnya Allah juga menghendaki agar kita selalu menjaga kebersihan. Oleh kerana itu, sebelum berwudhu’ kita mesti beristinja' terlebih dahulu. Hilangkan najis dulu, baru kemudian mensucikan diri. Sebagaimana difirmankan Allah berikut ini.
QS. Al Maidah (5): 6 "Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan solat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat Nya bagimu, supaya kamu bersyukur."
Besambung… Wudhu’ - Bahagian 2
Tazkirah: AIR SEMBAHYANG
1. Ketika berkumur , berniatlah kamu dengan,
"Ya Allah,ampunilah dosa mulut dan lidahku ini".
Penjelasan: Kita hari-hari bercakap benda-benda yang tak berfaedah.
2. Ketika membasuh muka, berniatlah kamu dengan,
"Ya Allah, putihkanlah muka ku di akhirat kelak,
Janganlah Kau hitamkan muka ku ini".
Penjelasan : Ahli syurga mukanya putih berseri-seri.
3. Ketika membasuh tangan kanan , berniatlah kamu dengan,
"Ya Allah, berikanlah hisab-hisabku ditangan kanan ku ini".
Penjelasan : Ahli syurga diberikanhisab-hisabnya di tangan kanan .
4. Ketika membasuh tangan kiri , berniatlah kamu dengan,
"Ya Allah, janganlah Kau berikan hisab-hisab ku di tangan kiri ku ini".
Penjelasan : Ahli neraka diberikan hisab-hisabnya di tangan kiri .
5. Ketika membasuh kepala , berniatlah kamu dengan,
"Ya Allah, lindunganlah daku dari terik matahari di padang Masyar dengan Arasy Mu".
Penjelasan : Panas di Padang Masyar macam matahari sejengkal di atas kepala.
6. Ketika membasuh telinga , berniatlah kamu dengan,
"Ya Allah, ampunilah dosa telinga ku ini"
Penjelasan : Hari-hari mendengar orang mengumpat, memfitnah dll.
7. Ketika membasuh kaki kanan , berniatlah kamu dengan.
Ya Allah, permudahkanlah aku melintasi titian Siratul Mustaqqim".
Penjelasan : Ahli syurga melintasi titian dengan pantas sekali..
8. Ketika membasuh kaki kiri , berniatlah kamu dengan,
"Ya, Allah, bawakanlah daku pergi ke masjid-masjid,
surau-surau dan bukan tempat-tempat maksiat"
Penjelasan : Qada' dan Qadar kita di tangan Allah.
Ramai di antara kita yang tidak sedar akan hakikat bahawa setiap yang dituntut dalam Islam mempunyai hikmah nya yang tersendiri .
Pernah kita terfikir mengapa kita mengambil wuduk sedemikian rupa?
Pernah kita terfikir segala hikmah yang kita perolehi dalam menghayati Islam?
Pernah kita terfikir mengapa Allah lahirkan kita sebagai umat Islam?
Bersyukurlah dan bertaubat selalu.. Hantar e-mail ini kepada rakan-rakan yang lain. Ikhlas kerana Allah..
"Ya Allah,ampunilah dosa mulut dan lidahku ini".
Penjelasan: Kita hari-hari bercakap benda-benda yang tak berfaedah.
2. Ketika membasuh muka, berniatlah kamu dengan,
"Ya Allah, putihkanlah muka ku di akhirat kelak,
Janganlah Kau hitamkan muka ku ini".
Penjelasan : Ahli syurga mukanya putih berseri-seri.
3. Ketika membasuh tangan kanan , berniatlah kamu dengan,
"Ya Allah, berikanlah hisab-hisabku ditangan kanan ku ini".
Penjelasan : Ahli syurga diberikanhisab-hisabnya di tangan kanan .
4. Ketika membasuh tangan kiri , berniatlah kamu dengan,
"Ya Allah, janganlah Kau berikan hisab-hisab ku di tangan kiri ku ini".
Penjelasan : Ahli neraka diberikan hisab-hisabnya di tangan kiri .
5. Ketika membasuh kepala , berniatlah kamu dengan,
"Ya Allah, lindunganlah daku dari terik matahari di padang Masyar dengan Arasy Mu".
Penjelasan : Panas di Padang Masyar macam matahari sejengkal di atas kepala.
6. Ketika membasuh telinga , berniatlah kamu dengan,
"Ya Allah, ampunilah dosa telinga ku ini"
Penjelasan : Hari-hari mendengar orang mengumpat, memfitnah dll.
7. Ketika membasuh kaki kanan , berniatlah kamu dengan.
Ya Allah, permudahkanlah aku melintasi titian Siratul Mustaqqim".
Penjelasan : Ahli syurga melintasi titian dengan pantas sekali..
8. Ketika membasuh kaki kiri , berniatlah kamu dengan,
"Ya, Allah, bawakanlah daku pergi ke masjid-masjid,
surau-surau dan bukan tempat-tempat maksiat"
Penjelasan : Qada' dan Qadar kita di tangan Allah.
Ramai di antara kita yang tidak sedar akan hakikat bahawa setiap yang dituntut dalam Islam mempunyai hikmah nya yang tersendiri .
Pernah kita terfikir mengapa kita mengambil wuduk sedemikian rupa?
Pernah kita terfikir segala hikmah yang kita perolehi dalam menghayati Islam?
Pernah kita terfikir mengapa Allah lahirkan kita sebagai umat Islam?
Bersyukurlah dan bertaubat selalu.. Hantar e-mail ini kepada rakan-rakan yang lain. Ikhlas kerana Allah..
Subscribe to:
Posts (Atom)







